Monthly Archives: February 2010

Cinta

Standard

Cinta itu rasa tai kucing ditambah saus anjing di lapisi tai kuda bertaburan tai tikus.

but i still believe in love, i live and life with love, no matter love look like, karena,,,cinta (baik kepada GOD and People) always guide us to perfect life…

terinspirasi oleh bahtera kurniawan putra

(creator of problematika remaja(di facebook)

MENJUAL BANGSA !!!

Standard

Krisis, kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan di Indonesia sudah bisa dirasa tidak menghebohkan lagi. Menjual bangsa untuk rupiah juga telah menjadi hal yang tak mengherankan saat ini.

Indonesia, negeri dengan sejuta kekayaan dari berbagai bidang. Tidak bisa dipungkiri indonesia bisa disebut dengan negara yang memiliki budaya terbanyak didunia. Bukan hanya tempat wisata, makanan daerah, baju adat, bentuk rumahpun memilki perbedaan antara suku yang satu dengan suku yang lainya. Hal itu adalah nilai plus bagi bangsa indonesia. Dan hal itu tentu saja memiliki nilai jual tersendiri. Kebutuhan yang mendesak membuat kita untuk “Menjual bangsa” kita kepada para wisatawan untuk mengais dolar dari kantung mereka. Berbagai wisatawan dari segala penjuru dunia berbondong-bondong pergi ke indonesia untuk bisa menikmati segala hal yang ada disini. Devisa melimpah dirasakan oleh bangsa kita. Dan hal ini tentu saja sangat membantu bagi negara kita yang sekarang ini dilanda masalah dari berbagai sektor. Terutama dalam hal ekonomi.

Tetapi datangnya “gerombolan” itu juga memberikan masalah tersendiri bagi bangsa kita. Masalah ini telah menjadi masalah setiap negara yang membiarkan negaranya “diinjak” oleh warga negara lain. Wisatawan-wisatawan itu membawa budaya mereka. Wisatawan ( terutama dari negara yang menjunjung tinggi kebebasan tanpa batas seperti Amerika serikat ) membawa kebebasan mereka ke negara yang mereka singgahi. Kebebasan telah menjadi hak mereka yang selalu dijunjung tinggi dinegara mereka. Kebebasan yang dijunjung tinggi itu telah menjadi budaya mereka. Budaya mereka bergabung dengan budaya negara yang mereka singgahi. Kebanyakan budaya yang mereka bawa tidak sesuai dengan norma yang dijujung oleh negara kita. Karena kebebasan kita masih kita batasi dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku didaerah kita. Tetapi hal itu sangat sulit untuk dielakan. Sebagaian besar remaja Indonesia terbuka akan adanya perubahan. Dan hanya sebagaian kecil dari remaja Indonesia yang bisa memilah-milah itu. Memilah antara budaya baik dan buruk bagi Indonesia. Akibatnya Indonesia ditelan mentah-mentah oleh budaya asing yang cenderung negatif bagi Indonesia

Masuknya budaya asing bukan hanya dibawa oleh para wisatawan, media massa juga ikut berperan dalam masuknya budaya asing ke Indonesia. Baik cetak maupun non cetak berperan besar dalam hal ini. Dan hal ini merupakan salah satu hal yang sulit untuk dihindarkan, karena media massa dinikmati oleh setiap orang dari berbagai golongan. Kita dapat mengambil salah satu contoh dari media massa itu sendiri yaitu Televisi ( TV ). Di Indonesia hampir semua orang memiliki TV, baik yang kaya maupun tidak. Karena TV adalah sarana hiburan yang paling mudah didapatkan. Padahal TV adalah sarana yang paling mudah diserap oleh semua golongan, sehingga masuknya budaya asing dapat dengan mudah dialami oleh negara Indonesia yang sebagaian besar memiliki TV dirumahnya.

Selain TV, koran, majalah, tabloid juga ikut andil mempermudah masuknya budaya asing.

Tetapi kita tidak bisa menyalahkan media massa, karena media massa adalah mata kita. Dan jika tidak ada media massa, maka kita akan kembali ke “Kegelapan”. Dimana kita menjadi bangsa yang tidak tahu apa-apa dan tidak berkembang.

Memang kebudayaan asing yang masuk di Indonesia tidak selamanya buruk, kita dapat melihat salah contoh tentang penggunaan sendok maupun garpu yang menggatikan posisi makan menggunakan tangan. Ataupun penggunaan alas kaki atau sepatu.

Jika memang masuknya budaya asing tidak dapat terelakan lagi, sepatutnya kita bisa menjadi “Filter” itu sendiri. Filter yang bisa sebagai penjaga dan pelindung, agar budaya kita tetap terjaga seiring masuknya budaya asing. Kita sekali-kali patut untuk “Mencontek” Jepang yang maju dan terbuka dengan adanya perubahan tetapi sangat menjunjung tinggi budaya mereka.

Anak SMP bolos buat Mbokep

Standard

jam 10.28Ckckck…

1 bulan menjadi penunggu tetap warnet dan melihat-lihat segala aktifitas baik dari anak dewasa maupun anak kecil yang sudah melek dengan yang namanya internet membuat saya selalu penasaran dengan berbagai pertanyaan ketika melihat ekspresi mereka yang sedang serius melihat layar monitor didepan computer mereka masing-masing. Ada yang tiba-tiba senyum sendiri, melotot, konsentrasi, dan ada yang menutup kuping menyanyi dan tidak peduli dengan yang namanya “nada yang tepat” dan orang-orang yang terpaksa mendengar dia menyanyi.

Suatu hari ketika harus membenarkan computer client yang tiba-tiba error, saya terpaksa harus melihat kenyataan tentang betapa “dewasa”nya anak sekarang. Computer itu hang karena beban yang terlalu berat ditanggung komputer itu(may be)hehehe<<gak jago computer juga>>> komputer itu tidak bisa diapa-apain cuman bisa dilihat, mouse and ctrl alt del juga gak ngefek, koma total… ada yang tau harus diapain kalo gini??

Akhirnya terlihat jelas deh apa saja yang dibuka oleh si “baby” yang masih pake seragam sekolah itu youtube, redtube, and berbagai situs dewasa lainnya yang memenuhi tab demi tab di mozilla itu. Dan yang terlihat di depan saya adalah situs dari youtube dengan adegan yang lagi tet tot tet tot..*******

Ketika ditanya mereka ada saja alibinya, “gak sekolah dek??” udah pulang mbak, pulang pagi. Dan jawaban yang paling tidak bisa di debat, ketika mereka menjawab masuk siang mbak, mampus dah,terpaksa kasih mereka masuk ke warnet. Larangan-larangan yang sudah ditulisakan di bilik-bilik client percuma saja ditempel.

Just For Fun

Standard

我是赵茉莉, 我今年19岁。我在智星大学学习汉语。智星大学是在泗水。 我学了一年多汉语。我喜欢学习汉语。谁都说汉语难,但是,我觉得,汉语有意思,汉字很美丽。我的班有三个中国老师,他们都是很好。我是喜欢辣菜,喜欢吃水果。 谁能明白我写什么,给我email吧。哈哈哈哈!!!

Buku Pembuat stress,Kite runner.

Standard

Halaman-halaman kite runner yang baru selesai saya baca sejak 15 februari 2010, telah mengisi otak saya dengan berbagai komplikasi baik dari budaya, politik dan isu yang sedang terjadi saat ini. Saya berfikir tentang ketidakadilan yang dapat dialami oleh siapa saja, nasib yang baik, terbalik menjadi nasib yang jelek hanya karena perang, bancana alam, kecelakaan, dll. Bagaimana dengan masyarakat di Afganistan sekarang? Dan orang-orang di irak? Pakistan? Dan Negara saya sendiri. Saya stress memikirkan nasib orang sedang berjuang dengan perang yang masih saja terjadi saat ini. Saya tidak bisa melakukan apa-apa dan itu yang sangat saya benci. Saya stress akan kenyataan ini. Dan saya semakin stress ketika berfikir ada orang yang mengalami hal yang sama seperti saya saat ini.

Khaled huseni membuka mata saya tentang arti perang itu sendiri, perang yang terjadi hanya akan memberikan kerusakan dimana-mana. Para wanita dan anak-anak menjadi korban, korban fisik akan membekas seumur hidup, tapi trauma pasca terjadinya peranglah yang akan menemani siapapun korban dalam perang tersebut hingga ajal menjemput. Seumpama ada seorang anak laki-laki yang menjadi korban perang ketika umur 11 tahun dan meninggal ketika umur 71 tahun, betapa beban yang dia hadapi terhadapi masa lalu akan selalu dikenangnya dalam waktu 60 tahun sisa hidupnya. Dan penanganan seusai perang, perhatian sangat dibutuhkan bagi mereka baik dari pemerintah, kelurga, masyarakat, tokoh agama, dan siapapun yang merasa sebagai makhluk hidup dan hidup bersama di dunia ini. Semoga tuhan melindungi siapapun yang tertindas di dunia ini, melindungi dan selalu menyertainya. Memberikan balasan yang adil bagi siapa saja yang menindas kaum yang tertindas. Ameen!

Jalanan bagi Kehidupan

Standard

Kotor, kriminal, pencuri, tidak berpendidikan begitu melekat pada sosok anak jalanan . Hampir sebagaian besar anak jalanan tidak “Sedap” dipandang mata. Mereka sangat identik dengan kekerasan. Mereka dianggap bahaya bagi sebagaian besar orang yang melihat.

Saya teringat hari dimana saya naik kereta api penataran dari surabaya ke malang, saya mengambil kereta jam 2.45 sore dari gubeng, ini adalah kereta api ekonomi, dan karena kereta api terlambat saya baru diberangkatkan sekitar jam 4 lebih(ciri-ciri Indonesia sejati). Semua keberangkatan otomatis terlambat, saya terpaksa harus sampai malang begitu malam, tetapi yang selalu saya ingat bukan keterlambatan ini. Ketika saya terbangun dari tidur saya(kebiasaan yang saya lakukan ketika dulu naik kereta api) karena ada seseorang yang tak sengaja menyenggol kaki kiri saya. Saya terkejut melihat bocah yang kira-kira masih kelas 6 sd dengan memakai baju biru yang menghitam karena debu dan celana jeans yang kotor tiga perempat. Wajahnya yang hitam karena debu jalanan menutupi polos dan kerasnya hidup ini. Dia berdiri hampir disamping saya. Senyumnya tak lagi ada. Bertanya sambil membawa karung yang berisi tumpukan botol mineral bekas, “ boleh saya ambil mbak?” sambil menunjuk botol yang berisi air satu tegak itu. Saya mengangguk. Saya tidak memiliki kata untuk menjawabnya. Saat itu saya teringat adik saya. Dia mungkin seusia adik saya, pikir saya dalam hati. Dan hal itu yang membuat saya sakit. Pantaskah anak sekicil itu menanggung beratnya hidup jalanan seperti ini? Bocah sekicil itu seharusnya tidak disini. Dia seharusnya belajar dirumah, mengerjakan, membaca pelajaran yang akan diajarkan guru-guru di sekolah esok.

Mereka tinggal ditempat yang tidak layak, dilingkungan yang memaksa mereka untuk keras. Lingkungan yang membesarkan mereka juga dengan keras. Tidak ada anak di dunia ini yang ingin menjadi anak jalanan. Dan tidak ada orangtua didunia ini yang menginginkan anaknya menjadi anak jalanan.Jika anda menanyai salah satu anak jalanan, apakah anda dulu bercita-cita sebagai anak jalanan? Pasti mereka menjawab tidak. Bukan keputusan dan permintaan mereka untuk menjadi anak jalanan. Anak jalanan hidup dengan sangat mengenaskan dimana mereka makan untuk hari ini dan hari esok entah. Mereka dengan usia sekecil itu dipaksa untuk bekerja, padahal usia mereka adalah usia dimana mereka untuk bermain, masa untuk menghabiskan masa kecil dengan bermain dan bersekolah. Tetapi hal itu sangat kontras dengan apa yang ada di dunia ini.

Pemerintah seharusnya memberi perlindungan bagi mereka. Bukankah anak jalanan masuk dalam salah satu pasal yang terdapat di Undang-undang bahwa mereka harus dilindungi dan dipelihara. Bukan hanya Undang-undang, agama islam juga menganjurkan kepada seorang muslim untuk melindugi anak jalanan dan mengasihi mereka. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia adalah yang terbesar di dunia, seharusnya di negara kita tidak ada anak jalanan yang jelas-jelas harus harus dikasihi dan dilindungi. Ini sangat tidak sama dengan apa yang terjadi saat ini. Begitu banyak orang yang tidak peduli dengan mereka. Dan agama lainnya pasti juga mengajarkan untuk saling berbagi satu sama lain, membantu satu sama lain, dan saling mengasihi satu sama lain.

Mereka mencuri, merampok, menjambret dan melakukan berbagai tindak kejahatan lainnya dan hanya sebagaian kecil dari mereka yang tidak melakukan itu. Jadi siapa yang harus disalahkan atas tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak jalanan? Orangtua mereka? Kita ? atau pemerintah?

Kencenderungan untuk melakukan kejahatan akan sangat tinggi untuk dilakukan oleh anak jalanan. Karena kecenderungan untuk “Meniru” tingkah laku orang disekitar mereka mudah untuk diserap oleh anak kecil juga berlaku untuk anak jalanan maka mereka cenderung untuk meniru orang disekitarnya, yang patut disayangkan bahwa orang disekitar mereka tidak memberikan contoh perilaku yang baik sehingga mereka memilki kecenderungan untuk bertabiat tidak baik. Mereka mencuri, merampok, merampas milik orang lain diusia sekecil itu Karena dipaksa untuk menanggung beban orang dewasa, mereka terpaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Mereka bertingkah seperti orang yang telah dewasa, tidak jarang dan bahkan sebagaian dari mereka juga merokok, minum-minuman keras, memakai narkoba adalah hal yang biasa bagi mereka. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pemerintah? Mengapa tidak ada tempat yang layak bagi mereka? Mengapa tidak ada tempat untuk melindungi mereka?

Bandingkan cara bicara anak SD umur 8 tahun dengan anak jalanan. Hanya dari cara bicara mereka kita dapat melihat perbedaan yang begitu mencolok. Usia yang sama tetapi dengan lingkungan yang berbeda dapat memberikan efek yang berbeda terhadap perilaku anak. Anak yang sekolah dididik untuk berbicara dengan sopan dengan bimbingan dan arahan yang benar dari guru mereka di sekolah. Sedangkan anak jalanan yang tidak sekolah tidak akan berbicara sebaik dan sesopan mereka. Mereka akan berbicara dengan kasar, dan penggunaan kata kasar itu lazim mereka gunakan. Pemerintah hanya bisa berdiam dan membiarkan kekejaman ini terjadi. Mereka seakan menutup mata dengan nasib anak jalanan.

Bagaimana dengan masa depan mereka? Kemungkinan untuk hidup “Enak” dimasa depan akan sangat sulit terwujudkan tanpa menjadi penjahat yang ulung. Kehidupan mereka hanya akan terkukung dalam kebodohan, kemiskinan, dan kejahatan. Sekarang mereka hanya membutuhkan buntuan. Bantuan dari kita. Uluran tangan kita akan sangat membantu mereka. Jadi dimanakah kita sekarang? Dan dimanakah pemerintah sekarang?