Jalanan bagi Kehidupan

Standard

Kotor, kriminal, pencuri, tidak berpendidikan begitu melekat pada sosok anak jalanan . Hampir sebagaian besar anak jalanan tidak “Sedap” dipandang mata. Mereka sangat identik dengan kekerasan. Mereka dianggap bahaya bagi sebagaian besar orang yang melihat.

Saya teringat hari dimana saya naik kereta api penataran dari surabaya ke malang, saya mengambil kereta jam 2.45 sore dari gubeng, ini adalah kereta api ekonomi, dan karena kereta api terlambat saya baru diberangkatkan sekitar jam 4 lebih(ciri-ciri Indonesia sejati). Semua keberangkatan otomatis terlambat, saya terpaksa harus sampai malang begitu malam, tetapi yang selalu saya ingat bukan keterlambatan ini. Ketika saya terbangun dari tidur saya(kebiasaan yang saya lakukan ketika dulu naik kereta api) karena ada seseorang yang tak sengaja menyenggol kaki kiri saya. Saya terkejut melihat bocah yang kira-kira masih kelas 6 sd dengan memakai baju biru yang menghitam karena debu dan celana jeans yang kotor tiga perempat. Wajahnya yang hitam karena debu jalanan menutupi polos dan kerasnya hidup ini. Dia berdiri hampir disamping saya. Senyumnya tak lagi ada. Bertanya sambil membawa karung yang berisi tumpukan botol mineral bekas, “ boleh saya ambil mbak?” sambil menunjuk botol yang berisi air satu tegak itu. Saya mengangguk. Saya tidak memiliki kata untuk menjawabnya. Saat itu saya teringat adik saya. Dia mungkin seusia adik saya, pikir saya dalam hati. Dan hal itu yang membuat saya sakit. Pantaskah anak sekicil itu menanggung beratnya hidup jalanan seperti ini? Bocah sekicil itu seharusnya tidak disini. Dia seharusnya belajar dirumah, mengerjakan, membaca pelajaran yang akan diajarkan guru-guru di sekolah esok.

Mereka tinggal ditempat yang tidak layak, dilingkungan yang memaksa mereka untuk keras. Lingkungan yang membesarkan mereka juga dengan keras. Tidak ada anak di dunia ini yang ingin menjadi anak jalanan. Dan tidak ada orangtua didunia ini yang menginginkan anaknya menjadi anak jalanan.Jika anda menanyai salah satu anak jalanan, apakah anda dulu bercita-cita sebagai anak jalanan? Pasti mereka menjawab tidak. Bukan keputusan dan permintaan mereka untuk menjadi anak jalanan. Anak jalanan hidup dengan sangat mengenaskan dimana mereka makan untuk hari ini dan hari esok entah. Mereka dengan usia sekecil itu dipaksa untuk bekerja, padahal usia mereka adalah usia dimana mereka untuk bermain, masa untuk menghabiskan masa kecil dengan bermain dan bersekolah. Tetapi hal itu sangat kontras dengan apa yang ada di dunia ini.

Pemerintah seharusnya memberi perlindungan bagi mereka. Bukankah anak jalanan masuk dalam salah satu pasal yang terdapat di Undang-undang bahwa mereka harus dilindungi dan dipelihara. Bukan hanya Undang-undang, agama islam juga menganjurkan kepada seorang muslim untuk melindugi anak jalanan dan mengasihi mereka. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia adalah yang terbesar di dunia, seharusnya di negara kita tidak ada anak jalanan yang jelas-jelas harus harus dikasihi dan dilindungi. Ini sangat tidak sama dengan apa yang terjadi saat ini. Begitu banyak orang yang tidak peduli dengan mereka. Dan agama lainnya pasti juga mengajarkan untuk saling berbagi satu sama lain, membantu satu sama lain, dan saling mengasihi satu sama lain.

Mereka mencuri, merampok, menjambret dan melakukan berbagai tindak kejahatan lainnya dan hanya sebagaian kecil dari mereka yang tidak melakukan itu. Jadi siapa yang harus disalahkan atas tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak jalanan? Orangtua mereka? Kita ? atau pemerintah?

Kencenderungan untuk melakukan kejahatan akan sangat tinggi untuk dilakukan oleh anak jalanan. Karena kecenderungan untuk “Meniru” tingkah laku orang disekitar mereka mudah untuk diserap oleh anak kecil juga berlaku untuk anak jalanan maka mereka cenderung untuk meniru orang disekitarnya, yang patut disayangkan bahwa orang disekitar mereka tidak memberikan contoh perilaku yang baik sehingga mereka memilki kecenderungan untuk bertabiat tidak baik. Mereka mencuri, merampok, merampas milik orang lain diusia sekecil itu Karena dipaksa untuk menanggung beban orang dewasa, mereka terpaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Mereka bertingkah seperti orang yang telah dewasa, tidak jarang dan bahkan sebagaian dari mereka juga merokok, minum-minuman keras, memakai narkoba adalah hal yang biasa bagi mereka. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pemerintah? Mengapa tidak ada tempat yang layak bagi mereka? Mengapa tidak ada tempat untuk melindungi mereka?

Bandingkan cara bicara anak SD umur 8 tahun dengan anak jalanan. Hanya dari cara bicara mereka kita dapat melihat perbedaan yang begitu mencolok. Usia yang sama tetapi dengan lingkungan yang berbeda dapat memberikan efek yang berbeda terhadap perilaku anak. Anak yang sekolah dididik untuk berbicara dengan sopan dengan bimbingan dan arahan yang benar dari guru mereka di sekolah. Sedangkan anak jalanan yang tidak sekolah tidak akan berbicara sebaik dan sesopan mereka. Mereka akan berbicara dengan kasar, dan penggunaan kata kasar itu lazim mereka gunakan. Pemerintah hanya bisa berdiam dan membiarkan kekejaman ini terjadi. Mereka seakan menutup mata dengan nasib anak jalanan.

Bagaimana dengan masa depan mereka? Kemungkinan untuk hidup “Enak” dimasa depan akan sangat sulit terwujudkan tanpa menjadi penjahat yang ulung. Kehidupan mereka hanya akan terkukung dalam kebodohan, kemiskinan, dan kejahatan. Sekarang mereka hanya membutuhkan buntuan. Bantuan dari kita. Uluran tangan kita akan sangat membantu mereka. Jadi dimanakah kita sekarang? Dan dimanakah pemerintah sekarang?

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s